Friday, January 25, 2013

Pengertian dan Konsep Perilaku

Ketika kita berbicara tentang perilaku maka pembicaraan tentang perilaku tidak lepas dari teori kepribadian. Perilaku dan kepribadian merupakan merupakan bagian dari kemampuan mental pada diri individu, yang masing-masing individu memiliki karakteristik yang berbeda yang mempengaruhi gaya personal individu dan mempengaruhi interaksinya dengan lingkungan. Pada chapter ini kita akan membahas hubungan keduanya antara kepribadian dan perilaku.
    Definisi kepribadian sebagai pola pikiran, emosi, dan perilaku yang berbeda dan karakteristik yang menentukan gaya personal individu dan mempengaruhi interaksinya dengan lingkungan. Jung mengidentifikasikan dua tipe kepribadian, introversi  dan eksroversi. Kepribadian  introversi memiliki cirri-ciri individu yang pemalu dan lebih menyukai bekerja sendirian, mereka cenderung menarik diri ke diri mereka sendiri; terutama pada saat mengalami stress emosional atau konflik. Kepribadian ekstraversi dicirikan pada individu  yang peramah dan suka bergaul dan menyukai pekerjaan yang memungkinkan mereka bekerja secara langsung dengan orang lain.
    Hipocrates (400 SM) membagi empat tipologi kepribadian berdasarkan konstitusi tubuh, yaitu:
*    Sanguitis, tipe manusia yang dikuasai cairan darah cenderung lincah, berubah-ubah, hidup, bersikap ekspansi.
*    Flegmatik, sifat tipe ini dipengaruhi oleh air limpa, maka cenderung tenang, lambat, reagbilitas rendah.
*    Kolerik, tipe ini dipengaruhi oleh empedu, mempunyai sifat bergelora (eksplosif), reagbilitas tinggi, sering dikuasai ketegangan-ketegangan.
*    Melankolik, tipe ini dipengaruhi oleh empedu hitam sehingga sifatnya pessimisme.

    Menurut pendekatan psikoanalitik bahwa kepribadian terdiri dari tiga subsistem utama yang berinteraksi guna mengatur perilaku manusia, yaitu Id, Ego, dan Superego. Id terdiri dari impuls (dorongan) biologis dasar yang menuntut pemuasan impuls-impuls tersebut. Id bekerja mengikuti prinsip kesenangan (pleasure principle); id berusaha menghindari rasa sakit dan mengejar kesenangan tanpa mempertimbangkan situasi eksternal. Ego mengikuti prinsip realita; pemuasan impuls harus ditunda sampai ditemukan situasi yang tepat. Ego memutuskan tindakan apa yang tepat dan impuls id mana yang dapat dipuaskan dan dengan cara apa pemuasan dilakukan. Ego menjadi perantara tuntutan id, realita dunia, dan tuntutan superego. Dan superego yang menilai apakah suatu tindakan benar atau salah, yang merupakan representatif internal dari nilai dan moral masyarakat dan mencakup kesadaran individual serta citranya tentang orang yang ideal secara moral. Superego bekerja dengan menggunakan prinsip moral.
    Pendekatan belajar  sosial menyebutkan bahwa lingkungan atau situasi sebagai determinan perilaku. Perilaku merupakan hasil dari interaksi terus menerus antara individu dengan lingkungannya. Kondisi lingkungan membentuk perilaku melalui proses belajar; selanjutnya perilaku orang tersebut membentuk lingkungan.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment