Friday, January 25, 2013

Teori-teori Psikologi Perkembangan

Dalam memahami perkembangan manusia, teori mempunyai peranan yang sangat penting. Teori dapat membantu kita memahami gejala-gejala dan membuat ramalan tentang bagaimana kita berkembang serta bagaimana kita berperilaku. Dalam pembahasan tentang perkembangan manusia, terdapat banyak teori, mulai dari sederhana dan sistematis sampai pada yang rumit. Berikut akan dibahas tentang teori-teori perkembangan, diantaranya psikodinamis, kognitif, teori kontekstual, serta teori behavior dan belajar social.

1. Teori Psikodinamik

    Teori psikodinamik adalah teori yang menjelaskan tentang perkembangan kepribadian. Unsur-unsurnya adalah aspek-aspek internal manusia seperti emosi, motivasi, dan aspek internal lainnya. Asumsi teori ini adalah adalah kepribadian berkembang ketika terjadi konflik-konflik dari aspek-aspek psikologi, yang umumnya terjadi sejak masa bayi. Pada masing-masing tahap, individu mengalami konflik internal yang harus diselesaikan sebelum memasuki tahap berikutnya. Teori ini banyak dipengaruhi oleh Sigmud Freud dan Erick Erikson.
    Freud berfokus pada masalah alam bawah sadar, sebagai salah satu aspek kepribadian manusia. Freud menyebutkan bahwa kepribadian manusia memiliki tiga struktur penting, yaitu id, ego, dan superego. Id berisi segala sesuatu yang secara psikologis telah ada sejak manusia lahir, termasuk insting-insting. Id merupakan tempat berkumpulnya energi psikis dan menyediakan seluruh daya untuk menggerakkan kedua struktur kepribadian lainnya. Ego adalah struktur kepribadian yang berkaitan dengan realita dan membuat keputusan-keputusan rasional. Sedangkan superego adalah memutuskan apakah sesuatu itu benar atau salah, sehingga ia dapat bertindak sesuai dengan norma-norma moral yang diakui masyarakat. Kemudian tiga komponen kepribadian ini berkembang melahui tahap-tahap perkembangan psikoseksual dan setiap tahap perkembangan tersebut individu mengalami kenikamatan pada satu bagian tubuh lebid daripada bagian tubuh lainnya.
Erick Erikson adalah salah satu seorang teoritis ternama dalam bidang perkembangan rentang kehidupan.salah satu sumbangannya yang terbesar dalam psikologi perkembangan adalah psikososial. Istilah “psikososial” berarti bahwa tahap-tahap kehidupan seseorang dari lahir sampai mati dibentuk oleh pengaruh-pengaruh social yang berinteraksi dengan suatu organisme yang menjadi matang secara fisik dan psikologis (Hall & Lidzye, 1993). Masing-masing tahap tahap memiliki tugas perkembangan yang khas, dan mengharuskan individu menghadapi dan menyelesaikan krisis.  Untuk setiap krisis, selalu ada pemecahan yang positif dan negative, pemecahan yang positif akan menghasilkan kesehatan jiwa, sedangkan pemecahan yang negative akan membentuk penyesuaian yang buruk

2. Teori Kognitif
    Teori kognitif didasarkan pada asumsi bahwa kemampuan kogntif merupakan sesuatu yang fundamental dan yang membimbing tingkah laku individu. Teori kogntif menekankan pada pikiran-pikiran sadar. Saat ini sering dibahas dua teori tentang perkembangan, yaitu teori perkembangan kognitif Piaget dan teori pemrosesan informasi.
    Piaget menyebutkan bahwa pemikiran anak-anak berkembang menurut tahap-tahap atau periode-periode yang terus bertambah kompleks.

Teori pemrosesan informasi (information processing theory) menekankan pentingnya proses-proses kognitif dengan tiga asumsi, yaitu (1) pikiran dipandang sebagai suatu system penyimpanan atau pengembalian informasi, (2) individu-individu memproses informasi dari lingkungan, (3) terdapat keterbatasan pada kapasitas untuk memproses informasi dari seorang individu )Zigler & Stevenson, 1993). Berdasarkan asumsi tersebut, dapat dipahami bahwa teori pemrosesan informasi lebih menekankan pada bagaimana individu memproses informasi tentang dunia mereka, bagaimana informasi masuk kedalam pikiran, bagaimana informasi disimpan dan disebarkan, dan bagaimana informasi diambil kembali untuk melaksanakan aktifitas-aktifitas yang kompleks, seperti memecahkan masalah dan berpikir.
Model kognisi dari teori pemrosesan informasi, diadaptasi dari Seifer & Haffnung, 1994)

3. Teori Kontekstual
    Teori kontekstual memandang perkembangan sebagai proses yang terbentuk dari transaksi timbale balik antara anak dan konteks perkembangan system fisik, sosial, kutural, dan histories dimana interaksi tersebut terjadi. Ada dua teori kontekstual, yaitu teori etologis dan teori ekologis.
    Pendekatan etologi difokuskan pada asal usul evolusi dari tingkah laku dan menekankan tingkah laku yang terjadi dalam lingkungan alamiah. Teori etologi mengenai perkembangan menekankan bahwa perilaku sangat dipengaruhi oleh biologi, terkait dengan evolusi, dan ditandai oleh periode-periode krisis atau sensitive (Santrok, 1998).
    Berbeda dengan teori etologis, teori ekologis memberikan penekanan pada system lingkungan. Tokoh utama teori ekologi adalh Urie Brofenbrenner. Pendekatan ekologi terhadap perkembangan mengajukan bahwa konteks dimana berlangsung perkembangan individu, baik kognitifnya, sosioemosional, kapasitas dan karakteristik motivasional, maupun partisipasi aktifnya merupakan unsur-unsur penting bagi perkembangan (Seifert & Hoffnung, 1994). Brofenbrenner menggambarkan empat kondisi lingkungan dimana perkembangan terjadi, yaitu mikrosistem, mesositem, ekositem, dan makrosistem.
    a.     Mikrosistem
        Menunjukkan situasi dimana individu hidup dan saling berhubungan dengan orang lain. Kontek ini meliputi keluarga, teman, sebaya, sekolah, dan lingkungan sosial lainnya. Dalam mikrosistem inilah terjadi interaksi yang paling langsung dengan agen-agen social.
    b.     Mesositem
        Menunjukkan hubungan antara dua atau lebih mikrositem atau hubungan beberapa konteks. Misalnya hubungan antara rumah dan sekolah.
    c.     Ekositem
              Terdiri dari setting social dimana individu tidak berpartisipasi aktif, tetapi keputusan penting yang diambil memiliki dampak terhadap orang-orang yang berhubungan langsung dengannya. Misalnya tempat orang tua bekerja, dewan sekolah, pemerintah lokal.
    D.     Makrosistem
              Meliputi cetak biru pembentukan social dan kebudayaan untuk menjelaskan dan mengoragnisir institusi kehidupan. Makrosistem direfleksikan dalam pola lingkan mikrosistem, mesositem, dan ekosistem yang dicirikan dari sebuah subkultur, kultur, atau konteks sosial lainnya yang lebih luas. Misalnya system kepercayaan bersama tentang umat manusia.

4. Teori Behavior dan Belajar Sosial
    Teori behavior (teori tingkahlaku) mula-mula dikembangkan oleh J.B.Watson (1878-1958),  asumsinya adalah perilaku dapat diamati, dipelajari melalui pengalaman dan lingkungan. Berikut ada tiga versi tentang pembentukan perilaku, yaitu Pavlov dengan kondisioning klasik, Skinner dengan kondisoning operan, dan Bandura dengan teori belajar sosial.

2 comments: